Tag Archives: panggilan orang tua

TOILET, TEMPAT CINTA DAN KEPERCAYAAN TUMBUH

18 Aug

Cobalah tengok ke toko-toko buku besar di kotamu, maka dengan mudah kita menemukan banyak sekali judul buku tentang kiat-kiat mendidik anak. Semua buku-buku itu luar biasa, bahkan melewati bertahun-tahun penelitian.

Banyak buku menawarkan cara-cara praktis orang tua dalam mendidik anak-anak. Namun tahukah kita betapa banyaknya cara yang dapat kita temukan sendiri untuk menjadi orang tua yang efektif, justru ketika kita meluangkan waktu yang “hebat” dengan anak-anak kita.

Toilet adalah sebuah tempat pertumbuhan cinta yang kuat antara orang tua dan anak. Betapa banyak waktu orang tua dan anak dilewati di Mall, Plaza, restoran, taman bermain. Namun tidak ada tempat yang lebih kuat membangun kasih yang tulus selain di toilet.

Toilet seringkali menjadi tempat terakhir yang kita singgahi dengan terpaksa. Selain aroma yang tidak memadai, toilet seringkali menjadi tempat segala yang tidak dibutuhkan tubuh dibuang di sana. Mendampingi anak di Mall, Plaza, restoran, tentu dilakukan dengan antusias, meski seringkali saya menyaksikan anak-anak seusia SD berjalan-jalan di Mall hanya ditemani pembantunya.apalagi bila mendampingi anak di toilet.

Di toilet, ada banyak karya Tuhan disingkapkan. Anak-anak seringkali melewati “lembah kekelaman” justru ketika di dalam toilet.

Anak kami, Benaiah, baru berumur 9 bulan beberapa waktu yang lalu. Ada beberapa masa dimana Ben kesulitan untuk buang air besar. Pada suatu hari, Ben gelisah sekali. Tidak bisa tidur, bolak balik di tempat tidur. Gelisah sambil akhirnya memberi signal bahwa dia sedang “kebelet”. saya langsung mengangkatnya ke toilet dan sambil menggendongnya, berusaha menolong Ben melepaskan “tekanan” di perutnya itu. Dengan sekuat tenaga, Ben berusaha mendorong sisa makanan di perutnya untuk keluar. Muka memerah sambil konsentrasi. Kira-kira 1/2 jam Ben berusaha sampai akhirnya Ben menangis tersedu+sedu. Dia membalikkan wajahnya ke arah saya (yang sedang menggendongnya dari belakang), menatap saya dengan sedih, lalu mencengkeram lengan saya dengan kuat. Rupanya Ben sudah menyerah. Air matanya banyak sekali, suaranya lirih, sedih campur sakit seakan mau berkata,” papa, Ben udah ga sanggup”. Istri saya yang berdiri di samping, matanya mulai memerah dan beberapa butir air mata juga jatuh bersama dengan kesedihan hati Ben.

Ben terus menatap saya sambil menangis pedih. Hati saya sedih melihat dan ikut merasakan kesedihan dan keputusasaannya. “Ben, papa mama disini, Ben semangat… Jangan putus asa. Tuhan tolongin Ben..” Tiba-tiba sebuah firman Tuhan begitu kuat berdengung di hati saya… Tuhan belah air laut Merah, untuk Orang Israel. Tuhan pernah buat jalan lahir yang ajaib ketika Ben lahir dengan persalinan normal yang nan panjang durasinya. Kali ini Tuhan melakukannya lagi untuk Benaiah, menyiapkan jalan supaya Ben menang didalam pertempuran toilet itu.

Satu jam lewat ketika Tuhan menolong Ben. Sambil mencengkeram tangan saya, menatap mama dan papanya bergantian, Ben berhasil melewati masa sulitnya dengan gemilang.

Setelah proses bersih-bersih selesai, kami membawa Ben ke kamar untuk dibedakin dan sebagainya. Ben duduk diam, menatap kami bergantian, memberi senyum indahnya, lalu melompati kami berdua, dan memegang erat leher saya dan lengan istri saya, seakan mau berkata,” papa, mama, terima kasih karena menyediakan waktu menemaniku di toilet… Masa sulit ga jadi sulit karena papa mama rela”…

Hari itu hati saya tergetar…air mata meleleh karena mengerti bukankah ini yang disebut hidup. Bukankah ini yang disebut mendampingi anak? Istri saya berhenti bekerja demi momen-momen ini. Lulusan Belanda, yang dapat bergaji tinggi, meninggalkan pekerjaannya dan impiannya untuk menangkap impian Ilahi bagi Benaiah.
Saya juga berjanji untuk tidak kehilangan momen-momen awal hidup Ben, dengan keputusan besar untuk mundur dari pekerjaan yang menyita waktu hidup saya dan mulai menggenapi panggilan Tuhan bagi kami sekeluarga.

Anak-anak tidak membutuhkan banyak materi. Asal makan, minum, dan pakaian serta rumah cukup, mereka tidak akan menuntut yang lain lagi. Tetapi dalam rumah, anak membutuhkan pelukan, kehangatan, penerimaan, pendampingan, pujian, dukungan, bahkan air mata bersama untuk memberitahu mereka, bahwa masih ada KASIH di dunia yang tidak menentu ini.

Toilet adalah lambang tempat pembuangan kotoran, tapi juga menjadi tempat kasih, pengharapan, dan iman tumbuh dalam keluarga. Bahwa Tuhan memperhatikan hidup kita sampai pada hal-hal detail, membuang kotoran di toilet, adalah anugerah Tuhan.

“Papa… Mama…. Ben mau ikut Tuhannya papa mama…”

Rudy & Merry Tejalaksana

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.