Mendampingi anak menghadapi kematian ayah

1 Feb

Sepanjang minggu ini adalah minggu yang berat bagi saya. Tepat seminggu yang lalu, saya mendapat kabar yang membuat lutut saya bergetar, seakan tidak percaya. Sahabat dekat saya di Makassar, Budiman, meninggal dunia dalam kecelakaan, yang bagi saya masih terus menjadi pertanyaan. Dalam keadaan berduka dan menangis bersama istri, saya tiba-tiba teringat dengan istri Budiman yang sedang hamil 3 bulan dan Jocelyn yang masih berusia 4 tahun. bagaimana dengan mereka ?Saya ingin sekali pulang ke Makasar, tapi tidak memungkinkan karena baru punya bayi dan tidak bisa ditinggal sendiri dengan istri. Saya hanya mendengar kisah dari teman-teman dekat lainnya.

Dalam pemberangkatan Jenazah, semua orang begitu terharu. yang datang mengantarkan jenazah ke kuburan bahkan lebih banyak daripada perayaan natal di GKKA. begitu banyak orang memberi dukungan, doa, dan kasih kepada Budiman dan keluarganya.

Namun di sela-sela duka itu, saya banyak berpikir dan berdoa untuk si kecil Jocelyn. apa yang ada di dalam pikirannya ? pasti banyak sekali pertanyaan. pasti banyak sekali yang mau dia katakan mengenai situasi sedih disekelilingnya. Seminggu ini dia sempat panas badannya, dan sering bertanya tentang papanya. Dia kangen sekali pada papanya. Tapi ada satu peristiwa yang diceritakan tante Jocelyn kepada saya. Dalam satu percakapan yang mengharukan, Jocelyn tanya kepada mama, “kok papa tidak pulang?” Mama menjawab, “Papa sudah sama-sama Tuhan Yesus jadi tidak pulang lagi”. Jocelyn hanya tanya, “Ma, kok papa tidak bawa barang-barang?” Mama menjawab, “barang-barang di surga lebih bagus jadi tidak perlu bawa barang lagi”.

Pertanyaan-pertanyaan Jocelyn sebenarnya mewakili puluhan pertanyaan di dalam hatinya. Ada banyak hal yang mungkin tidak bisa ditanyakan oleh Jocelyn tentang papanya. Tapi Jocelyn, seperti semua orang lainnya, dapat merasakan kedalaman kepedihan itu, hanya dengan pemahaman dan ekspresi yang berbeda.

Bagaimana memahami duka kehilangan dalam hati anak-anak seperti Jocelyn ?

1. Kita harus mengingat bahwa anak-anak memiliki perasaan yang sama dengan orang yang lebih besar (dewasa). Perasaan kehilangan juga dirasakan anak-anak itu tidak bisa diselimuri (dibelokkan) dengan berbagai cerita kita tentang realita. anak-anak ini cukup memahami situasi dukanya, hanya tidak tahu (asing) untuk mengekspresikan kedukaan dengan terbuka. Mereka mungkin masih akan berlari-lari, bermain, tertawa, hanya akan sangat tampak ekspresi bingung, kikuk, asing, dan kesedihan yang bercampur aduk. Anak-anak akan bingung, mengapa papanya tidak bangun… kok tidur terus, mereka akan bingung banyak orang berkumpul di dekat papanya, keluarga yang terus menangis, dan sebagainya. Duka mereka banyak tertutupi berbagai pertanyaan mengenai situasi itu. Barulah setelah semua usai, anak-anak ini baru menghadapi realita kehilangan orang tua yang dikasihinya. Akan banyak pertanyaan setelah acara pemakaman usai. Akan banyak air mata, atau situasi batin yang membuat hati anak-anak menjadi pedih. Di saat-saat seperti itulah anak-anak butuh pendampingan yang lebih dari sebelumnya.

2. Jenis pendampingan …. (berlanjut)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: