Sentuhan kasih bagi Tino

26 Feb

TERBATAS TAPI BERHARGA

Kekurangan dan keterbatasan pada anak-anak bukanlah alasan untuk menolak anak-anak, sebab anak-anak dengan keterbatasan mengajar kita mengenai kedalaman kasih dalam kalbu. Mata yang buta, telinga yang tuli, mulut yang bisu, kecacatan otak, pertumbuhan abnormal, down syndrome, retardasi mental, dan berbagai macam keterbatasan pada anak-anak adalah jalan masuk bagi Tuhan untuk menyatakan kasih-Nya yang begitu luas. Anak-anak yang terbatas berhak untuk berkata, “betapa bahagianya menjadi anak-anak”

medio 26 Feb 2011

Beberapa waktu ini, saya sedang belajar melayani anak-anak dengan keterbatasan. Beberapa hari yang lalu, saya bertemu dengan seorang anak dengan keterbatasan penglihatan dan pendengaran. Sejak lahir, Tino sudah tidak dapat melihat maupun mendengar. Mama Tino mengalami problem dalam kehamilannya dan mengakibatkan pertumbuhan Tino menjadi terhambat, khususnya pada bagian mata dan telinga. Yang lebih memberatkan lagi adalah bahwa orang tua Tino kemudian menitipkan anak ini di sebuah keluarga sederhana di desa di daerah Pasuruan, Jawa Timur. Pertemuan dengan Tino membuat saya mengerti apa dampak dari kasih sayang yang sebenarnya.

Sejak berusia 2 bulan, Tino dirawat oleh sepasang kakek nenek yang sangat sederhana. Mbah Tarjo dan istri adalah buruh tani sederhana, yang seumur hidup mereka tidak pernah memiliki ladang sendiri. Rumah mereka sangat sederhana. Hanya terdiri dari 2 kamar yang berukuran “sangat” kecil. Ketika duduk di dalam rumah tersebut, tiba-tiba mata saya tidak bisa menahan haru. Saya tidak kenapa. Saya hanya merasa begitu damai duduk di dalam rumah tersebut. Di depan saya, ada sebuah lukisan tua, yang sudah dimakan usia. Lukisan itu adalah Lukisan Tuhan Yesus membasuh kaki murid-murid-Nya. Lukisan itu sudah sering saya lihat, tetapi yang membedakan lukisan itu adalah tulisan di bawah lukisan itu, “Tuhan, bolehkah aku membasuh kaki?” Saya tidak mengerti arti kata itu, sampai Mbah Tarjo menjelaskannya kepada saya.

Ketika sedang memandang lukisan itu dengan haru, Bu Tarjo datang menuntun Tino. Dengan langkah yang cepat, anak berusia 5 tahun ini berusaha mengikuti langkah Bu Tarjo yang juga cepat menuju ke tempat saya duduk. Saya dan bu Tarjo berkenalan ketika sedang memimpin sebuah acara Sekolah Alkitab Liburan di Desa itu. Tino datang juga ke acara SAL itu, tapi yang pasti, Tino tidak bisa mendengar cerita-cerita Alkitab yang saya sampaikan di SAL itu. Bu Tarjo mendudukkan Tino persis di samping saya. Ada perasaan haru melihat kasih yang mendalam dari seorang ibu tua sederhana ini. Bu Tarjo mendekatkan telunjuknya di kening Tino, dan mulai menulis sebuah” kode rahasia” mereka. Sesaat kemudian, Tino tersenyum… manis sekali… dan kemudian mulai meraba-raba ke arah saya. Tino mencari tangan saya, menggenggamnya dengan lembut, dan mulai menyentuh ibu jari dan telunjuk saya secara berulang-ulang. Saya hanya tersenyum, sambil air mata saya tidak bisa berhenti menetes. Saya tidak mengerti arti sentuhan itu. Bu Tarjo kemudian menjelaskan kepada saya (dalam bahasa Jawa), “ Nak, Tino mau bilang kepadamu bahwa Tuhan sayang pada om rudy. Ibu jari artinya Tuhan, telunjuk artinya kamu. Ketika dia menyentuh ibu jari dan telunjukmu secara bergantian dan berulang-ulang, Tino mau memberitahu om Rudy bahwa Tuhan sayang om rudy”. Rupanya Tino sudah mengenal saya. Sepanjang saya bercerita firman Tuhan dalam SAL, bu Tarjo menerjemahkan bahasa saya kepada Tino dengan “bahasa rahasia” mereka. Rupanya hal itulah yang membuat Tino langsung mau menyentuh tangan saya setelah “bahasa rahasia dahi” sebelumnya.

Air mata saya jatuh lebih deras lagi. Saya hanya tidak bisa membayangkan, keluarga sederhana Mbah Tarjo benar-benar mengerti arti mengasihi. Bu Tarjo kemudian berkata (kembali dalam bahasa jawa), “Nak, Tino ini dibuang orang tuanya. Omnya pun tidak bersedia untuk mengasuhnya. Jadilah kami yang mengambilnya. Anak kami dua orang sudah besar, tinggal dan bekerja di Probolinggo dan Jember. Kami kadang merasa sepi. Tapi sejak Tino ada di rumah ini, suasana menjadi menyenangkan. Orang sering Tanya, apa tidak susah membesarkan anak cacat seperti Tino ? Kami sering menjawab bahwa Tino tidak cacat, hanya diberi karunia berbeda dengan orang lain. Matanya tidak bisa melihat. Tapi hatinya selalu melihat Tuhan. Telinganya tidak bisa mendengar, tapi malam-malam, Tino sering tertawa bahagia, karena hatinya peka terhadap sentuhan Tuhan. Tino adalah malaikat Tuhan untuk keluarga Tarjo. Kami tidak tahu bagaimana mengajar Tino (Braille – huruf bagi orang buta), dan tidak bisa menggunakan bahasa isyarat dengan tangan karena Tino terbatas pada mata dan telinganya. Tapi Tino selalu senang disentuh, dibelai. Bahasa belaian dan sentuhan itulah yang menjadi cara kami bercakap-cakap. Tino terbatas, tapi hatinya seperti malaikat”.

Saya menyimak dengan terharu hati ibu Tarjo yang luar biasa lapang ini. Bagi sebagian besar orang, buta dan tuli adalah tanda kecacatan, tanda ketidakmampuan. Tapi bagi Bu Tarjo, buta dan tuli adalah tanda bahwa Tuhan sedang peduli kepada hidup keluarganya, pada hidup Tino. Kebutaan dan ketulian fisik hanyalah cara Tuhan memperdengarkan suara-Nya dalam bentuk yang paling dalam, batin, nurani, dan hati. Bukankah itulah cara kita mendengar Tuhan berkata-kata ?

Bila pembaca memiliki anak-anak dengan keterbatasan fisik, apapun itu, berhentilah mengeluh. Lihatlah anak-anak yang “terbatas” itu dengan cara pandang Tuhan melihatnya. Bukankah Tuhan turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi orang yang mengasihi-Nya. Bila pembaca punya anak yang memiliki keterbatasan, lakukanlah hal ini:

1.       Pelukan, kasih, dan kepeduliaan adalah bahasa kalbu yang bisa ditangkap oleh semua orang, termasuk di dalam keterbatasan mereka. Anak-anak yang terbatas, bahkan seorang yang sedang koma, benar-benar dapat menangkap bahasa kalbu terdalam ini. Bahasa sentuhan menyingkap bagian terdalam dari diri manusia, memperpanjang “tangan Tuhan” untuk menjangkau hati yang membutuhkan kasih.

2.       Terimalah anak-anak “terbatas” ini dengan keluasan hati yang benar-benar luas. Anak-anak “terbatas” ini perlu ruang untuk bertumbuh dalam keluasan hati orang tuanya. Kasihilah mereka bahkan lebih dari sebelumnya.

3.       Anak-anak adalah anugerah Tuhan. Bawalah mereka pada puncak sukacita hidup sehingga mereka dapat berkata, “betapa bahagianya menjadi anak-anak”.

Dalam Kasih Allah yang luar biasa luas

RudyMERRYBENAIAH

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: