ANAK-ANAK BERHARGA DARI SURGA

5 Mar

Menjadi anak-anak adalah sebuah ide brilian dari Tuhan. Ketika semua bangsa makhluk hidup lain tidak perlu berlama-lama untuk menjadi anak-anak, Tuhan menciptakan manusia untuk menikmati masa anak-anak, menjadi anak-anak.

Rancangan Tuhan bagitu jelas, bahwa menjadi anak-anak haruslah dibarengi dengan kebahagiaan. Menjadi anak-anak yang bahagia. Namun benarkah menjadi anak-anak itu bahagia ? Dapatkah anak-anak yang dilahirkan dalam keadaan yang kurang, dengan tubuh yang tidak lengkap, dengan bagian tubuh yang tidak berfungsi dengan baik, dengan pertumbuhan yang tidak “normal” ? Dapatkah anak-anak yang lahir dalam keadaan buta, bisu, tuli, lumpuh, down syndrome, autisme, dan bahkan lahir dengan membawa penyakit ganas tertentu; kanker, kelainan darah, hidrocephalus, dan sebagainya, bisa menjadi anak-anak yang bahagia ?

Pertanyaan itu serasa tiap hari menggelitik pikiran dan hati saya, manakala membantu menjadi relawan bagi anak-anak dengan keterbatasan di sebuah sekolah luar biasa di Surabaya. Bagi saya, pertanyaan-pertanyaan ini terlalu mudah untuk dijelaskan dengan berbagai teori, teologi, atau bahkan filsafat. Tapi bagaimana cara memahami perasaan anak-anak dengan keterbatasan dan mengerti bahwa mereka benar-benar bahagia ?

Seorang anak perempuan berusia 7 tahun, namanya Jeni. Lahir dalam keadaan normal, namun karena sakit berkepanjangan pada masa kecilnya membuatnya lumpuh dari dada ke bawah.  Selain itu, rupanya sakit Jeni juga membuatnya memiliki keterbatasan intelegensia, yang membuatnya ditolak untuk bersekolah disekolah umum.

Mamanya adalah penjaja kue keliling, sedang papanya adalah mandor bangunan dengan penghasilan tidak tetap. Bahkan untuk membeli kursi roda bagi Jenipun tidak mampu dilakukan oleh kedua orang tuanya, sampai ada seorang dermawan, mendonasikan sebuah kursi roda buat Jeni, dan bahkan memberi beasiswa bagi Jeni untuk bersekolah di salah satu sekolah luar biasa di surabaya.

Setiap hari, Jeni harus menggunakan kursi roda untuk bergerak dari satu tempat ke tempat lain. Keterbatasan ini membuat Jeni tidak dapat bersekolah di sekolah umum. Jeni dianggap sebagai anak “cacat” yang tidak mungkin bersaing dengan murid lain yang “normal”. Kenyataan ini membuat saya banyak bertanya, dengan kriteria apa seorang anak disebut “normal”?

Jeni suka sekali menggunakan jepit pita biru di rambutnya yang kecoklat-coklatan. Hampir setiap hari saya melihatnya menggunakan jepit pita yang sama, jepit kecil dengan pita biru dan beberapa manik-manik disekitar pita. Jeni tampak cantik dengan jepit tersebut. Saya jadi ingin tahu, apa sebenarnya makna jepit pita biru tersebut, karena saya tahu jepit itu sangat berharga bagi Jeni.

Ketika bertemu dengan Jeni, saya seringkali merangkulnya, mengatakan betapa cantiknya dia hari itu. Jeni sering tersipu malu, tanpa banyak bicara, memberi senyum manisnya. Setelah beberapa kali pertemuan, Jeni mulai nyaman berada di dekat saya. Dia mulai senang bercerita tentang apa saja. Tentang ibunya, yang bangun jam 3 pagi untuk membuat kue untuk dijual. Atau tentang ayahnya, yang sering tidak pulang beberapa minggu bila sedang ada proyek bangunan. Tentang ikan mas kokinya yang 2 ekor itu. Tentang telur ceplok yang dibuatin ibu untuk sarapan pagi.tentang baju barunya, yang dihadiahkan untuk seorang anak pengemis di dekat rumahnya. Tentang boneka babinya, salah satu dari 2 boneka yang dipunyainya. Satu boneka lagi, boneka beruang, sudah dihadiahkan kepada salah satu teman sekolahnya di SLB itu yang berulang tahun beberapa minggu sebelumnya. Dan akhirnya mengenai jepit pita biru yang selalu dikenakan Jeni. Ternyata jepit itu adalah jepit kakak Jeni, Ratna, yang dihadiahkan kepada Jeni tepat pada hari ulang tahun Jeni setahun sebelumnya. Ratna adalah seorang anak berusia 12 tahun, yang menderita kanker darah. Jepit pita biru itu adalah buatan Ratna, yang diberikan sebagai hadiah, beberapa hari sebelum Ratna meninggal dunia. Sakit pada tubuh Ratna sudah tidak tertolong lagi karena orang tua Ratna dan Jeni tidak punya biaya. Kanker sudah menyebar ke beberapa bagian organ Ratna. Ratna sempat ditolak oleh 3 rumah sakit, sampai akhirnya ada sebuah rumah sakit kecil di Surabaya timur yang bersedia menampung Ratna. Namun akhirnya Ratna tidak tertolong lagi.

Jeni menghela nafas sangat panjang sepanjang ceritanya tentang kakaknya. Jeni berkata bahwa Ratna adalah malaikat yang Tuhan kirim untuk menolongnya. Sejak kecil Ratna yang merawat Jeni, menggendongnya, memandikannya, kadang menyuapinya, bahkan ketika Ratna sedang sakit keras. Kehilangan Ratna membuat Jeni sangat sedih, sempat tidak mau sekolah lagi, terus menerus memegang foto Ratna (ketika bercerita pun, Jeni menunjukkan foto Ratna yang selalu dibawanya di dalam tas). Jepit pita biru adalah sebuah hadiah “terakhir” Ratna kepada Jeni, sebuah jepit penanda cinta. Sebuah Jepit kasih sayang. Sebuah jepit keberhargaan. Sebuah pengakuan bahwa kelumpuhan Jeni tidak membuat kasih Ratna lumpuh.

Bukankah betapa sering kasih kita menjadi lumpuh, ketika keterbatasan, kelemahan obyek kasih kita terkuak. Jepit pita biru menguak sebuah misteri bahwa kasih tidak mengenal batas. Kasih tidak mengenal kelemahan. Bukankah justru di tengah kelemahan orang lainlah kasih kita dibutuhkan ?

Saya memiliki seorang kakak yang menderita down syndrome. Herlina Tejalaksana namanya. Usianya 22 tahun ketika Tuhan memanggilnya kembali ke Surga pada tahun 1994. Sejak dilahirkan, papa saya tidak bisa menerima kehadiran seorang anak “cacat”. Kak Herlina lebih banyak di”sembunyi”kan di dalam rumah, daripada dipamerkan kepada orang lain. Kasih mama yang benar-benar luar biasa mengisi hatinya. Tapi kasih Tuhan yang diterimanya beberapa bulan sebelum meninggal benar-benar membekas dalam hati. Beberapa bulan menjelang kematiannya, Kak Herlina sering sekali berjalan kaki pergi ke sebuah gereja di kampong dekat tempat tinggal keluarga kami. Dia senang sekali berada berlama-lama di sana. Berbicara dengan pendeta, bergurau dengan guru injil muda, dan bahkan membantu membersihkan bangku gereja yang akan dipakai untuk kebaktian. “Kecacatan” membuatnya ditolak oleh ayah kami. Tapi kasihnya kepada Tuhan, pada keluarga, dan pada saya adiknya, memberi sebuah materai, bahwa kasih itu begitu nyata, justru banyak kali hadir di antara orang-orang yang kita pandang kecil, remeh, dan “cacat”.

Betapa banyak pasangan suami istri yang menggugurkan kandungan (atas anjuran dokter) karena memprediksi bahwa anak yang akan mereka lahirkan akan lahir dalam keadaan cacat. Berapa banyak anak yang dilahirkan dalam keadaan ditolak, karena mereka cacat, tidak sempurna, dan dianggap sebagai aib keluarga ? berapa banyak anak dilecehkan, dikecilkan, diremehkan, hanya karena mereka terbatas ?

Saya tiba-tiba teringat sebuah syair dari Edna Massimilla, seorang ibu sederhana, yang mengingatkan kita bahwa anak, meskipun dengan segala keterbatasan dan kelemahan, adalah sebuah anugerah istimewa dari Surga

SPECIAL CHILD FROM HEAVEN

Sebuah pertemuan diadakan cukup jauh dari bumi,

“Sudah saatnya untuk satu kelahiran lagi,”

Kata para malaikat kepada Tuhan di atas sana.

“Anak yang istimewa ini akan membutuhkan banyak kasih sayang.”

Perkembangannya akan tampak lambat, mungkin tidak ada kemajuan yang akan diperlihatkannya.

Dan ia akan memerlukan perhatian khusus dari orang-orang yang dijumpainya di bawah sana.

Ia mungkin tidak dapat berlari atau tertawa atau bermain. Pikirannya mungkin tampak begitu jauh.

Dalam banyak hal, ia tidak dapat menyesuaikan diri. Dan dia akan dikenal sebagai anak cacat.

Maka, kitaharus berhati-hati mengirimnya. Kita ingin hidupnya bahagia.

Tolong, Tuhan, carilah orang tua yang akan melaksanakan sebuah tugas istimewa untuk-Mu.

Mereka tidak akan segera menyadari tugas istimewa yang harus mereka laksanakan.

Tetapi dengan anak yang dikirimkan dari surga ini, iman mereka akan dikuatkan dan kasih mereka akan makin berlimpah.

Dan segera mereka akan mengetahui hak istimewa yang diberikan dalam mengasuh hadiah istimewa dari Surga ini.

Hadiah berharga yang begitu lembut dan lemah untuk mereka, adalah anak yang istimewa dari surga.

Bila hari ini kita bergumul dengan anak-anak kita yang terbatas, ingatlah bahwa mereka adalah sebuah hadiah, khusus di datangkan Tuhan dari Surga untuk orang-orang yang dipercayai-Nya. Kami mendoakan dan mendukung saudara untuk mengasihi anak-anak special kita dengan seluruh hidup kita.

Dalam kasih ALLAH,

 

(Rudy & Merry)

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: