Mama dari Surga

4 Apr

“Mama, saya pasti punya DUA hati, karena saya SANGAT mencintaimu” Bill Keane

Merry Yohana Tejalaksana

Wanita karier atau Ibu rumah tangga ?

Pakaian tersetrika licin, rambut tertata rapi, riasan menawan dan menarik, bekerja keras mencapai puncak tangga karier.

Pakaian rumah sederhana, rambut tertata seringkas dan sepraktis mungkin, wajah polos alami, bekerja keras mengurus rumah tangga.

Dua gambaran yang berbeda dan tak asing bagi kaum wanita. Banyak yang memilih skenario pertama di 3 dekade terakhir ini. Meskipun demikian, tidak sedikit wanita yang menjawab panggilan menjadi ibu rumah tangga.

Dengan maraknya trend emansipasi wanita, pekerjaan sebagai ibu rumah tangga banyak ditinggalkan dan diserahkan kepada pembantu rumah tangga dan babysitter. Ambisi untuk mencapai cita-cita dan perwujudan pendidikan tertinggi yang sudah dijalani mendukung pekerjaan yang lebih banyak dihargai orang, seorang wanita karier.

Saya pribadi sejak masih duduk di bangku sekolah sudah memimpikan menjadi seorang wanita karier. Berpakaian jas rapi, bekerja di perusahaan besar, dan berpenghasilan tinggi. Akan tetapi sejak saya mengandung dan terlebih saat mendekap anak laki-laki saya untuk pertama kalinya setelah perjuangan yang panjang, saya memutuskan untuk menjadi seorang ibu rumah tangga. Sungguh tidak semudah yang saya bayangkan. Bahkan seringkali saya frustasi, merasa gagal dan tidak mampu. Saya bersyukur atas suami yang terus mendukung, menghibur, dan menguatkan saya untuk menjalani panggilan ini.

Tidak sedikit yang memandang aneh atas keputusan saya menjadi seorang ibu rumah tangga. Bahkan terceletuk komentar, “Kalau akhirnya jadi ibu rumah tangga, buat apa sekolah tinggi-tinggi.” Tetapi saya dan suami berpegang teguh pada pendirian kami. Saat ini kami sedang melakukan investasi dalam hidup anak kami. Perawatan dan pendidikan yang terbaik untuk anak kami adalah oleh kami sendiri. Kami ingin anak kami menyadari bahwa hidupnya berharga bagi kami sebagai orangtua-nya.

Sebuah ilustrasi yang saya baca dari tulisan suami saya di sebuah majalah Pendidikan masih berbekas jelas di ingatan saya. Jika kita memiliki 100 kg emas murni, akan-kah kita meminta orang lain, bahkan pembantu rumah tangga untuk menyimpan dan menjaganya untuk kita? Tentu banyak dari kita yang tidak rela dan bahkan tidak akan memercayakan emas tersebut kepada orang lain. Kita simpan baik-baik di tempat teraman. Nah, manakah yang lebih berharga bagi kita, emas 100 kg atau anak yang sudah Tuhan titipkan?

Ketika saya dan suami sedang mengunjungi seorang teman di rumah sakit, kami harus bergantian karena anak kami tidak disarankan untuk masuk ruangan. Saya sedang mengendong anak saya dan bercanda dengannya ketika seorang suster menyapa dan percakapan tentang anak pun berlangsung. Ketika mengetahui bahwa saya adalah ibu rumah tangga, beliau berkata, “wah enak ya bisa demikian.” Sebelum memutuskan untuk bekerja, kita kaum wanita harus mengajukan pertanyaan, “Apakah kami tidak dapat hidup, jika saya tidak bekerja?” Jangan sampai keputusan untuk bekerja, meninggalkan anak di rumah dengan pembantu atau babysitter, hanya untuk memenuhi ambisi pencapaian diri atau ketakutan mengganti gaya hidup menjadi lebih sederhana. “Saya bekerja untuk masa depan anak saya, supaya dapat sekolah yang tinggi, bahkan ke luar negeri.” Ini lah alasan klise yang sering diberikan oleh banyak ibu berkarier. Sungguhkah uang atau jaminan hidup berkecukupan yang dibutuhkan anak? Atau kehadiran dan perhatian serta kasih sayang ibu yang dibutuhkannya?

Sepupu saya yang masih kecil, Grace, bungsu dari 3 bersaudara, memiliki orang tua yang sibuk. Ayah seharian sepanjang minggu sibuk mengurus toko, ibu jarang di rumah, jika tidak di toko, pergi ke luar pulau mengurus usahanya untuk waktu yang cukup lama, atau pergi berbelanja di mall. Grace bertumbuh menjadi anak yang cuek dan semaunya sendiri. Hubungan dengan ibunya pun sangat jauh, ketika menangis ia mencari sang ayah, ketika si ibu di luar pulau menelpon, Grace tidak mau berbicara.  Pernah suatu waktu Grace tidak mau diajak ke manapun, ia hanya mau tinggal di rumah dan menonton TV kabel. Usut punya usut Grace “stress.” Kepada pembantu yang menjaganya ia berkata, “Aku ini sendirian, papa di toko terus, mama pergi ke luar pulau.” Ini lah jeritan hati seorang anak yang rindu akan kasih sayang yang nyata dari orang tuanya. NDS, TV kabel, Timezone, dan makanan enak tidak dapat menggantikan pelukan, ciuman, dan kata-kata sayang seorang ibu.

Jika dapat memutar kembali waktu, saya tetap akan memilih menjadi ibu rumah tangga. Kenikmatan mendekap anak saya, melihatnya percaya dan tertidur dalam gendongan saya, tersenyum-senyum dan bahkan tertawa dalam tidur, bercanda dengannya, berjoget dengan iringan lagu “Baby”-nya Justin Beiber untuk menghentikan tangisannya, merasakan hangatnya tangan mungilnya memegang tangan saya, dan melihatnya tertawa ketika saya mengatakan, “Mama sayang kamu, nak.”

Apa yang kita tanam akan kita tuai. Jika kita menanam kasih dan hidup kita untuk anak-anak berharga yang sudah Tuhan titipkan, maka kita akan menuai kasih dan penghargaan dari anak-anak kita. Saya rindu untuk mendengar ucapan dari anak saya suatu hari kelak seperti dalam ilustrasi kartun oleh Bill Keane, “Mama, saya pasti punya DUA hati, karena saya SANGAT mencintaimu.” Marilah kita menjadi ibu yang ‘ada’ bagi anak-anak kita. Tidak saja kita akan membuat anak-anak kita berbahagia, tetapi kita akan dengan kepala tegak mempertanggung-jawabkan kepada Tuhan, sang Pencipta anak-anak, kelak…. Menjadi Orang tua terbaik adalah sebuah keputusan yang bernilai kekal, yang tidak akan pernah disesali selamanya. MAMA DARI SURGA ADALAH MAMA YANG RELA BERKORBAN AGAR ANAK-ANAKNYA MENGENAL KASIH BAPA SURGAWI

Things we learn  when we become parents that reflects our Father’s heart

Sedang belajar hati BAPA SURGAWI dengan menjadi ibu dan istri terbaik

Merry Tejalaksana

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: