Aside

WHEN LOVE GROWS

15 Jun

Oleh Rudy Tejalaksana

Waktu cepat sekali berlalu. Yang paling banyak kita sesali bukanlah apa yang sudah kita lakukan, namun apa yang belum kita lakukan. Begitu juga dalam membesarkan anak-anak kita dalam keluarga.

Rasanya seperti baru kemarin Ben lahir. Sekarang semua bertumbuh. Tubuhnya bertambah tinggi (banyak orang menyangka dia udah berumur 4 padahal baru 2,5 thn). Dia dapat diajak berbicara tentang apa saja. Responsnya selalu jelas, meski dg gaya anak2nya. Semua bertumbuh dengan baik. Namun salah satu pertanyaan di hati saya adalah: apakah kasihnya juga tumbuh dengan baik ?

Seringkali kita sibuk mengurusi pertumbuhan tubuhnya, mentalnya, intelektualnya, karakternya. Tapi jarang sekali kita bertanya, “apakah kasih juga tumbuh di dalam diri anakku?”

Untuk tumbuh dengan subur, kasih memerlukan setidaknya 5 akar yang kuat:
1. Anak memerlukan rasa aman (security) untuk tumbuh mempercayai Tuhan, dirinya dan dunia ini.

Rasa aman yang kuat pastilah tumbuh pertama-tama dari relasi dengan orang tuanya. Orang tua yang menyentuh, memeluk, mendoakan, menuntun dan menjadi teladan hidup membuat anak-anak merasa aman, bahkan ditengah kondisi terburuk sekalipun. Anak-anak yang tidak mendapat rasa aman dalam masa kecilnya akan terus merindukan dan sekuat tenaga mencari rasa aman itu disepanjang hidupnya. Anak-anak tanpa rasa aman akan sangat sulit mengembangkan kasih sayang di hidupnya. Anak-anak yang menemukan rasa aman sejati dari Tuhan lewat sentuhan papa mama, kasih akan tumbuh dalam dirinya. Anak ini melihat orang lain dengan kasih yang kuat. Anak-anak yang merasa aman, akan melihat hidup itu indah, hidup itu semangat, hidup itu antusias.

2. Anak memerlukan batasan (boundaries) untuk memproses dirinya menjadi berlian yang indah.

Batasan itu sangat penting bagi anak. Dari batasan itulah mereka belajar mengenai respek dan kasih. Anak-anak diberi batas yang bijak dan orang tua dengan respek dan konsisten membimbing anak berdiri dan berjalan dengan antusias di dalam batas itu. Anak-anak akan tenang dan antusias berada dalam batas itu selama orang tua tenang dan antusias dalam batasan yang sama. Seringkali anak memberontak bukan karena mereka tidak menyukai batas atau ingin melawan. Namun anak seringkali menemukan orang tua yang berjalan melewati batas, sambil memerintahkan anak tetap di dalam batas. Anak akan marah dan berontak.

Contoh: anak dilarang untuk merokok, namun disisi lain papanya masih merokok.

anak akan tenang dan bahagia dalam batas ketika orang tua tenang dan bahagia (dan konsisten) berada didalam batas.

Bounderies membuat anak justru merasa aman. Anak tahu mana yang boleh dan tidak. Mana yang benar dan salah. Anak akan belajar berjalan di jalan yang orang tuanya pilih.

Boundaries membuat anak belajar respek dengan diri sendiri dan orang lain. Respek ini akan menolong mereka respek pada Tuhan dan hidup. Ketika anak respek pada hidupnya, dirinya, tubuhnya dan Tuhannya, kasih dari Tuhan akan tumbuh dengan indah dalam dirinya.

Anak-anak yang mengalami pelecehan seksual, mengalami kerusakan dalam respek. orang lain mendobrak dan memaksa masuk, menghancurkan boundaries hidup. Ketika boundaries itu dihancurkan dan respek direnggut, anak-anak akan terluka parah. Sy menemukan ratusan kasus anak2 yang tinggal dijalanan, mengalami kekerasan-kejahatan seksual. Hidup mereka hancur. Batasan mereka dirusak orang lain. Anak-anak ini akan keluar dari puing-puing dengan hati hancur, siap menghancurkan diri mereka sendiri. Benci tumbuh, kemarahan memuncak, dan merenggut semua masa kecil mereka.

Orang tua memberi batasan ” Yes and No” dengan bijak dan benar akan membuat anak mampu berdiri dengan “Yes dan No” yang bijak dan benar pula.

3. Anak memerlukan merasa bahwa hidupnya penting (significant).

Orang tua seringkali membuat relasi I-it dengan anak. Relasi I – It sering digambarkan dengan bagaimana orang tua memperlakukan anak sebagai benda (obyek). ” Lakukan ini… Lakukan itu…. Ayo berdiri… Duduk… Pindah…. Belajar…. Jalan…. Makan… ” dan banyak perintah lainnya. Anak2 seringkali merasa bahwa mereka mirip sekali dengan benda. Bahkan dibeberapa bagian, anak2 merasa bahwa mereka sudah kalah bersaing dengan rumah baru, mobil baru, pekerjaan karier orang tua. Orang tua yang begitu sibuk, memberi mainan mahal, liburan mahal, untuk anak sebagai kompensasi. Anak2 merasa sebagai obyek, sebagai benda.

Belum lagi orang tua yang penuh kontrol, otoriter, penentu keputusan. Anak2 hanya menjadi pelaku yang menjalankan perintah. Relasi I – It menyakiti hati anak-anak. Anak-anak merasa hidup mereka tidak penting. Anak merasa semakin kecil setiap hari. Bagaimana anak bisa melihat orang lain penting, bila dia tidak dapat melihat bahwa dirinya penting ? Bagaimana kasih bisa tumbuh dalam diri anak ketika mereka merasa kecil, tidak berguna, tidak berarti ? Bagaimana mereka dapat merasa bahwa hidup mereka penting bagi Tuhan, kalau orang tua saja tidak merasa hidup anak-anak ini penting ?

Begitu banyak anak yang tumbuh remaja dan dewasa tanpa merasa penting. Hidup dijalani apa adanya, begitu tanpa makna. Kasih hanya bisa tumbuh kalau anak merasa bahwa hidupnya penting krn orang tua memperlakukan mereka dengan respek dan hikmat.

4. Kasih anak hanya tumbuh di dalam komunitas dengan orang lain

Anak-anak moderen begitu terseret masuk ke dalam hidup individualis. Begitu sendiri. Permainan anak begitu sendiri. Begitu eksklusif. Video game, televisi, tablet, smartphone, telah membuat anak hidup begitu sendiri. Mereka tetap sendiri meski bersama orang lain. Lihat saja ketika ketika acara makan keluarga besar. Tubuh bersama, namun tetap merasa sendiri. Kehadiran orang lain sudah lama terlupakan. Bagaimana kasih dalam anak-anak bisa tumbuh ? Kasih memerlukan komunitas untuk tumbuh. Orang tua perlu menghadirkan komunitas “benar” bagi anak-anak. Persahabatan dengan anak-anak tetangga, berbagi dengan bapak pengangkut sampah, bersahabat dengan pak satpam, komunitas sekolah minggu, sahabat kasir di Giant supermarket, penjual tahu, penjual kue, tukang potong rumput, dan sebagainya. Anak2 tumbuh kasihnya ketika sejak kecil mereka melihat kehadirannya sebagai bagian penting hidup orang lain. Ben mempersiapkan buah2an, kue, masakan mama, untuk dibagikan pada tetangga, pada pak Sukri si pengangkut sampah, dan bahkan berpikir untuk membagi mobil2an barunya dengan teman-temannya. Betapa indahnya kasih tumbuh dalam komunitas. Anak2 tahu bahwa hidupnya adalah bagian penting hidup orang lain

5. Hidup anak-anak adalah bermain. Disanalah mereka mengembangkan hidupnya, kreatifitasnya.

Hidup anak-anak adalah bermain. Ambillah permainan anak, maka berhentilah dia hidup. Hidup anak-anak diisi dengan bermain. Permainan membuat mereka belajar. Bermain membuat mereka hidup; tumbuh dalam imajinasi, mimpi, harapan, kreatif. Bermain membuat anak bergerak, antusias, bersemangat. Disanalah mereka belajar.

Sebagian besar sekolah telah mengambil hidup anak-anak. Sekolah merusak arti belajar(hanya duduk mendengar dan menyelesaikan tugas. Dimarahi, diberi ranking, dilabeli pintar / bodoh. Kalau sekolah hanya itu saja, kita anak melihat anak2 yang semakin sekolah semakin kehilangan banyak potensinya. Sekolah mengikat anak untuk mengikuti mau guru, bukan potensi anak. Anak-anak begitu menderita di sekolah.

Hal itulah yang membuat kami enggan memasukkan Ben ke sekolah. Ben harus tumbuh dari semua hal yang Tuhan taruh dalam hidupnya. Orangtua hanya fasilitator anak belajar. Bukanlah belajar bisa dimana saja ? Kapan saja ? Dan dari apa saja ? Bukankah permainan anak digunung-gunung, dengan sungai, pohon, daun, batu, jangkrik, kodok, tikus, monyet adalah obyek belajar anak yang begitu membangkitkan antusias ? Bukankah alam menjadi tempat terbaik bagi anak untuk belajar ?

Di kota besar, anak-anak dibesarkan jauh dari alam. Mereka dikotakkan dalam ruangan, apartement, villa, dan seterusnya. Anak-anak menjadi sangat jauh – secara emosional – dengan alam. Karena itulah anak-anak modern tumbuh tanpa rasa cinta dengan alam. Bukanlah salah satu problem terbesar kerusakan alam karena anak-anak memang sedikit sekali memiliki kesempatan berinteraksi dengan alam ?

alam dan isinya menceritakan kemuliaan Tuhan. Bawalah anak sedekat mungkin dengan alam, maka mereka akan melihat kemuliaan Allah. Kreatifitas alamiah yang anak-anak punyai begitu mengagumkan. Janganlah batasi atau bahkan merusaknya dengan cara yang salah. Hati-hatilah melihat potensi anak, dan bantulah mereka mengembangkannya dengan indah. Bermain adalah cara terbaik membangunkan mimpi, harapan dan kreasi indah anak-anak.

Betapa indahnya masa kanak-kanak. Betapa bahagianya sejak kecil mengenal Tuhan, dan bertumbuh dalam kasih-Nya hari demi hari. Anak-anak akan jadi anak-anak panah kasih terbaik, jadi alat kasih Tuhan bagi dunia yang haus dan lapar akan kasih. Anak-anak memerlukan. Security, Boundaries, Significant, community dan Creativity untuk tumbuh dalam kasih setiap hari. Sudahkah kasih anak Anda tumbuh hari ini ? Mari kita memastikannya….

Malaysia, 09.06.2013
Refleksi belajar dari atas bukit ketika belajar di Holistic Child Development Institute

Rudy

Lord, teach us from Your holy Word

The truth that we must know,

And help us share the joyous news

with all little ones around us. Amen

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: